Di Indonesia, pembicaraan tentang kecerdasan buatan kini sudah bergerak jauh dari sekadar topik teknologi yang terdengar modern. AI mulai dipandang sebagai lapisan baru yang bisa mempercepat produktivitas, memperbaiki pengalaman pelanggan, memperkuat efisiensi bisnis, dan membuka model layanan yang sebelumnya sulit diwujudkan. Dalam konteks inilah pernyataan Telkom bahwa inovasi AI telah menjadi kebutuhan strategis terasa masuk akal. Ketika ekonomi digital tumbuh semakin cepat, perusahaan tidak cukup hanya punya konektivitas. Mereka juga harus punya kemampuan mengolah data, membangun otomasi, dan menciptakan nilai tambah dari teknologi.
Cara melihat AI juga berubah. Dulu AI sering dibicarakan sebagai alat tambahan, semacam fitur pelengkap yang membuat layanan tampak lebih canggih. Sekarang posisinya berbeda. AI mulai dilihat sebagai infrastruktur tak terlihat yang bekerja di balik banyak proses penting: personalisasi layanan, keamanan digital, analitik data, optimasi jaringan, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan yang lebih cepat. Karena itu, ketika Telkom menempatkan AI sebagai kebutuhan strategis, pesan yang muncul bukan soal ikut-ikutan tren, melainkan soal menjaga relevansi di tengah percepatan ekonomi digital.
Mengapa AI Menjadi Penting untuk Ekonomi Digital Indonesia
Ekonomi digital Indonesia sedang berada di fase yang menarik. Laporan e-Conomy SEA 2025 menempatkan Indonesia pada ambang nilai ekonomi digital sekitar 99 miliar dolar AS pada 2025, dengan proyeksi rentang sekitar 180 miliar hingga 340 miliar dolar AS pada 2030. Laporan yang sama juga menunjukkan Indonesia memimpin kawasan dalam momentum komersial aplikasi berfitur AI, dengan pertumbuhan pendapatan 127 persen untuk aplikasi yang memasarkan fitur AI pada paruh pertama 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi wacana pinggiran, melainkan mulai menjadi bagian dari mesin pertumbuhan pasar digital.
Dari sisi fondasi ekonomi, Bank Dunia juga menekankan bahwa digitalisasi membutuhkan internet broadband yang cepat dan terjangkau, serta data center dan cloud berkapasitas tinggi. Bahkan, dalam presentasi Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2025, peningkatan 10 poin persentase penetrasi fixed broadband dikaitkan dengan kenaikan GDP per kapita sekitar 0,85 persen hingga 1,43 persen. Artinya, pembahasan AI tidak bisa dipisahkan dari infrastruktur. AI yang kuat butuh jaringan yang kuat, pusat data yang kuat, dan kesiapan digital yang merata.
Posisi Telkom: Bukan Hanya Penyedia Jaringan
Di titik ini, peran Telkom menjadi menarik. Telkom tidak lagi hanya ingin dibaca sebagai perusahaan telekomunikasi yang menyediakan koneksi, tetapi sebagai digital orchestrator yang menyatukan konektivitas, infrastruktur digital, pusat data, layanan platform, dan ekosistem inovasi. Dalam pernyataan yang dikutip ANTARA, Telkom menegaskan bahwa peran itu dijalankan lewat penguatan konektivitas, pembangunan infrastruktur digital, dan pengoperasian puluhan data center di berbagai wilayah. Bahasa seperti ini menunjukkan bahwa strategi perusahaan tidak lagi berhenti di jaringan, tetapi bergerak ke lapisan yang lebih dalam: fondasi ekonomi digital.
Menurut saya, ini adalah perubahan cara pandang yang sangat penting. Di era ekonomi digital, pemain besar tidak cukup hanya menjual akses. Mereka harus ikut menentukan bagaimana akses itu dipakai untuk menghasilkan nilai ekonomi. Kalau jaringan adalah jalan tol, maka AI adalah kendaraan pintar yang membuat lalu lintas digital lebih cepat, lebih efisien, dan lebih produktif. Tanpa investasi pada AI, perusahaan hanya akan menjadi penyedia jalur. Dengan AI, perusahaan bisa ikut bermain di wilayah nilai tambah yang jauh lebih besar.
AI Butuh Tiga Hal: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem
Kalau dibongkar lebih dalam, ada tiga syarat besar agar AI benar-benar berdampak pada ekonomi digital. Pertama, infrastruktur. Telkom sendiri menekankan pentingnya AI-ready data center sebagai jantung transformasi digital masa depan. Dalam penjelasan resminya, beban kerja AI membutuhkan daya komputasi besar, pendinginan canggih, GPU berperforma tinggi, dan konektivitas ultra-cepat dengan latensi rendah. Itu sebabnya pusat data sekarang tidak lagi dipahami sekadar ruang server, melainkan tulang punggung pengolahan data skala besar.
Kedua, talenta. Telkom menyebut AI tidak lagi sekadar tren, tetapi fondasi transformasi ekonomi digital, sehingga kebutuhan talenta digital ikut melonjak. Untuk menjawab tantangan itu, Telkom menghadirkan AI Center of Excellence sebagai wadah untuk memperkuat ekosistem kecerdasan buatan nasional. Inisiatif ini dibangun di atas empat pilar: AI Campus, AI Playground, AI Connect, dan AI Hub. Ini penting, karena AI tidak akan berarti banyak bila hanya dibeli sebagai teknologi jadi tanpa ada SDM yang mampu memahami, mengembangkan, dan mengadaptasikannya ke kebutuhan lokal.
Ketiga, ekosistem. AI yang sehat tidak tumbuh di ruang tertutup. Ia membutuhkan kolaborasi antara operator, penyedia data center, perusahaan teknologi, kampus, startup, dan pengguna akhir di sektor bisnis maupun layanan publik. Telkom tampaknya membaca kebutuhan ini. Di Davos 2026, perusahaan menempatkan strategi digital Indonesia dalam kerangka ekonomi yang terhubung, kreatif, dan berdaya saing global. Artinya, AI tidak dibayangkan hanya sebagai alat internal perusahaan, tetapi sebagai bagian dari struktur ekonomi yang lebih luas.
Dari Wacana ke Langkah Nyata
Hal yang membuat narasi Telkom cukup relevan adalah adanya upaya konkret untuk menghubungkan AI dengan infrastruktur dan layanan. NeutraDC, bagian dari ekosistem Telkom, misalnya, menekankan posisi AI-ready digital infrastructure provider dan menjalin kolaborasi dengan F5 untuk solusi AI-secure connectivity berbasis data center. Kerja sama ini bukan sekadar soal jargon, tetapi menyasar isu nyata seperti keamanan aplikasi modern, multi-cloud, dan konektivitas yang aman untuk lingkungan AI-driven. Di dunia digital saat ini, kecepatan tanpa keamanan adalah risiko, bukan keunggulan.
