PBNU Dorong Santri Kuasai Teknologi Digital Hingga AI

Laila
6 Min Read
PBNU Dorong Santri Kuasai Teknologi Digital Hingga AI

Perkembangan teknologi digital bergerak sangat cepat. Hampir semua sektor kehidupan kini bersentuhan dengan internet, aplikasi, data, kecerdasan buatan, dan sistem otomatis. Dunia pendidikan, ekonomi, dakwah, kesehatan, hingga pelayanan masyarakat ikut berubah mengikuti arus digitalisasi. Dalam situasi seperti ini, santri tidak cukup hanya menjadi penonton. Santri juga perlu hadir sebagai bagian dari perubahan.

Dorongan PBNU agar santri kuasai teknologi digital hingga artificial intelligence atau AI menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan zaman. Pesantren selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan akhlak, ilmu agama, dan pembentukan karakter. Namun, di era modern, pesantren juga memiliki peluang besar menjadi pusat lahirnya generasi digital yang beretika, cerdas, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pesantren Tidak Boleh Tertinggal

Pesantren memiliki sejarah panjang dalam membentuk kualitas manusia Indonesia. Dari pesantren lahir banyak ulama, pendidik, tokoh masyarakat, pemimpin, dan penggerak sosial. Namun, perubahan zaman menuntut pesantren untuk terus beradaptasi.

Teknologi digital bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan santri. Saat ini, santri menggunakan smartphone, mengakses internet, belajar melalui platform digital, berdakwah melalui media sosial, dan berinteraksi dengan informasi global setiap hari. Jika tidak dibekali literasi digital yang kuat, santri bisa menjadi pengguna pasif yang hanya menerima arus informasi tanpa kemampuan memilah.

Karena itu, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan. Santri kuasai teknologi digital bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk belajar, berkarya, berdakwah, meneliti, membangun jaringan, dan menciptakan solusi.

AI sebagai Peluang Baru bagi Santri

Kecerdasan buatan atau AI kini menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh. AI bisa membantu menulis, menerjemahkan, menganalisis data, mencari informasi, membuat desain, mengelola dokumen, hingga mendukung proses pembelajaran. Jika digunakan dengan tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat bagi dunia pesantren.

Santri bisa memakai AI untuk memperluas akses belajar, meringkas bahan bacaan, memahami bahasa asing, menyusun materi dakwah, membuat konten edukatif, hingga mengembangkan aplikasi berbasis kebutuhan umat. Namun, penggunaan AI juga harus disertai pemahaman etika. AI bukan pengganti guru, kiai, atau proses talaqqi keilmuan. AI hanyalah alat bantu yang harus tetap dikontrol oleh akal, adab, dan sanad keilmuan.

Di sinilah santri memiliki keunggulan. Dengan dasar moral dan tradisi keilmuan pesantren, santri kuasai teknologi digital dapat menggunakan AI secara lebih bertanggung jawab. Teknologi tidak dipakai secara liar, tetapi diarahkan untuk kemaslahatan.

Menggabungkan Kitab Kuning dan Teknologi

Salah satu kekuatan pesantren adalah tradisi kitab kuning. Kitab-kitab klasik menjadi fondasi penting dalam memahami agama secara mendalam. Namun, tantangan generasi sekarang adalah bagaimana membuat literatur pesantren lebih mudah diakses, dipelajari, dan dikembangkan tanpa kehilangan otoritas keilmuannya.

Teknologi digital bisa membantu menjawab tantangan itu. Digitalisasi kitab, pencarian cepat, katalog literatur, kamus Arab digital, hingga platform berbasis AI dapat memudahkan santri dan masyarakat dalam mengakses khazanah pesantren. Dengan cara ini, ilmu klasik tidak berhenti di rak kitab, tetapi bisa hadir dalam format yang lebih dekat dengan generasi digital.

Namun, digitalisasi tidak boleh menghilangkan kedalaman belajar. Kitab tetap harus dikaji bersama guru. Teknologi hanya mempermudah akses, bukan menggantikan proses memahami ilmu secara benar.

Santri sebagai Kreator, Bukan Sekadar Konsumen

Dorongan menguasai teknologi harus diarahkan agar santri menjadi kreator. Selama ini, banyak anak muda hanya menjadi konsumen digital. Mereka menonton konten, menggulir media sosial, mengikuti tren, dan memakai aplikasi tanpa memahami cara kerjanya. Santri perlu naik kelas dari pengguna menjadi pembuat.

Santri bisa belajar coding, desain grafis, editing video, keamanan digital, manajemen data, digital marketing, hingga pengembangan aplikasi. Dengan kemampuan tersebut, santri bisa menciptakan produk digital yang bermanfaat. Misalnya aplikasi jadwal ngaji, platform literasi pesantren, media dakwah kreatif, sistem administrasi pondok, toko online produk santri, hingga layanan edukasi berbasis AI. Jika santri kuasai teknologi digital mampu berkarya di ruang digital, pesantren tidak hanya dikenal sebagai pusat ilmu agama, tetapi juga sebagai pusat inovasi.

Dakwah Digital yang Lebih Kreatif

Media sosial hari ini menjadi ruang dakwah yang sangat luas. Banyak orang mencari jawaban keagamaan, motivasi hidup, nasihat moral, dan inspirasi melalui internet. Jika ruang ini tidak diisi dengan konten yang sehat, maka masyarakat mudah terpapar informasi yang dangkal, provokatif, atau menyesatkan.

Santri kuasai teknologi digital bisa mengambil peran penting. Mereka bisa membuat konten dakwah yang santun, kreatif, mudah dipahami, dan sesuai dengan nilai Islam rahmatan lil alamin. Dakwah tidak harus selalu dalam bentuk ceramah panjang. Bisa melalui video pendek, infografis, podcast, artikel, animasi, atau diskusi interaktif. Dengan bekal ilmu pesantren, santri bisa menghadirkan konten digital yang tidak hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab secara keilmuan.

Literasi Digital dan Akhlak Bermedia

Menguasai teknologi tidak cukup jika tidak dibarengi akhlak. Justru semakin kuat teknologi, semakin besar tanggung jawab penggunanya. Santri perlu memahami etika bermedia, keamanan data, bahaya hoaks, privasi, hak cipta, dan dampak buruk penyalahgunaan teknologi.

Literasi digital berarti mampu membedakan informasi benar dan salah, tidak mudah menyebarkan kabar bohong, menjaga adab dalam komentar, serta tidak menggunakan teknologi untuk merugikan orang lain. Dalam hal ini, nilai pesantren sangat relevan. Adab, tabayyun, amanah, dan tanggung jawab adalah fondasi penting dalam dunia digital.

Santri digital idealnya bukan hanya pintar teknologi, tetapi juga memiliki akhlak yang kuat. Inilah yang membedakan penguasaan teknologi berbasis pesantren dengan penggunaan teknologi yang hanya mengejar kecepatan dan popularitas.

Share This Article