Jolla Phone Hadir dengan Sailfish OS dan Fokus pada Privasi
teknotera.id – Pasar samartphone selama bertahun-tahun didominasi oleh dua nama besar, Android dan iOS. Karena itu, kehadiran Jolla Phone menjadi sesuatu yang cukup menarik perhatian. Smartphone besutan perusahaan asal Finlandia, Jolla, ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menjalankan Sailfish OS, sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan sebagai alternatif dari sistem operasi smartphone mainstream.
- Jolla Phone Tidak Menggunakan Android
- Tetap Bisa Menjalankan Aplikasi Android
- Ada Tombol Fisik untuk Menjaga Privasi
- Spesifikasi Jolla Phone Cukup Menjanjikan
- Desainnya Membawa Identitas Jolla
- Harga Jolla Phone Tidak Murah, tetapi Menawarkan Konsep Berbeda
- Jolla Phone Bisa Jadi Alternatif untuk Pengguna yang Ingin Berbeda
Jolla memperkenalkan Jolla Phone generasi terbaru pada Desember 2025. Perangkat ini tidak sekedar menawarkan sistem operasi yang berbeda, tetapi juga membawa filosofi yang cukup kuat mengenai privasi, kebebasan pengguna, serta ketergantungan terhadap ekosistem perusahaan teknologi besar.
Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan Android atau iPhone, konsep tersebut tentu terasa unik. Namun, justru di situlah daya tarik Jolla Phone. Smartphone ini mencoba membuktikan bahwa perangkat pintar tidak harus selalu bergantung pada Google atau Apple untuk menjalankan berbagai fungsi sehari-hari.

Jolla Phone Tidak Menggunakan Android
Hal paling menarik dari Jolla Phone tentu saja sistem operasinya. Alih-alih menggunakan Android, perangkat ini menjalankan Sailfish OS 5, sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan Jolla.
Sailfish OS sebenarnya bukan pendatang baru. Jolla sudah mengembangkan sistem operasi tersebut selama bertahun-tahun dan sebelumnya juga menghadirkan smartphone dengan konsep serupa. Jolla Phone terbaru menjadi kelanjutan dari perjalanan perusahaan dalam membangun ekosistem smartphone yang lebih independen.
Penggunaan Sailfish OS membuat Jolla Phone memiliki pengalaman penggunaan yang berbeda dari mayoritas smartphone saat ini. Pengguna tidak harus membuat akun Google untuk menggunakan perangkat. Jolla juga menempatkan privasi sebagai salah satu fitur utama perangkat tersebut.
Menurut Jolla, Sailfish OS tidak mengirimkan data aktivitas di latar belakang seperti layanan yang umum ditemukan pada ekosistem smartphone mainstream. Sistem ini juga tidak menyertakan analitik tersembunyi dan tidak mewajibkan akun Google.
Dengan pendekatan tersebut, Jolla ingin memberikan kontrol lebih besar kepada pengguna atas data dan perangkat mereka sendiri.
Tetap Bisa Menjalankan Aplikasi Android
Tidak menggunakan Android bukan berarti pengguna harus meninggalkan seluruh aplikasi yang selama ini mereka gunakan.
Jolla menyediakan teknologi bernama AppSupport yang memungkinkan Sailfish OS menjalankan aplikasi Android. Fitur tersebut menjadi salah satu bagian penting dari Jolla Phone karena ketersediaan aplikasi sering menjadi tantangan terbesar bagi sistem operasi smartphone alternatif.
Bayangkan jika sebuah smartphone memiliki sistem operasi berbeda, tetapi tidak dapat menjalankan aplikasi perbankan, aplikasi komunikasi, media sosial, atau berbagai layanan populer. Pengguna tentu akan berpikir ulang sebelum membelinya.
Jolla mencoba mengatasi masalah tersebut dengan menghadirkan dukungan aplikasi Android. Perusahaan menyebut teknologi ini memungkinkan aplikasi sehari-hari, termasuk aplikasi perbankan dan layanan pesan, tetap digunakan melalui Jolla Phone.
Dengan demikian, pengguna mendapatkan kombinasi yang cukup menarik: sistem operasi berbasis Linux dengan akses terhadap aplikasi Android.
Ada Tombol Fisik untuk Menjaga Privasi
Fitur lain yang membuat Jolla Phone berbeda adalah keberadaan physical privacy switch.
Tombol fisik tersebut memungkinkan pengguna memutus akses sejumlah sensor pada perangkat. Jolla merancang fitur ini agar pengguna dapat mengontrol mikrofon, kamera, dan sensor tertentu secara langsung tanpa harus membuka menu pengaturan.
Konsep tersebut terdengar sederhana, tetapi cukup relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap privasi digital. Banyak pengguna smartphone mengandalkan pengaturan software untuk mengontrol izin kamera dan mikrofon. Jolla menawarkan pendekatan yang lebih langsung melalui tombol fisik.
Jolla bahkan menjadikan privasi sebagai bagian dari desain perangkat, bukan sekadar fitur tambahan. Perusahaan ingin pengguna dapat mengetahui kapan sensor tertentu aktif atau dimatikan dengan kendali yang lebih mudah.
Konsep seperti ini juga menjadi salah satu pembeda utama Jolla Phone dibandingkan smartphone Android maupun iPhone.
Spesifikasi Jolla Phone Cukup Menjanjikan
Dari sisi hardware, Jolla Phone tidak hanya mengandalkan konsep sistem operasi alternatif. Perangkat ini juga membawa spesifikasi yang cukup modern.
Jolla Phone memiliki layar AMOLED berukuran 6,36 inci dengan resolusi Full HD+. Layarnya menggunakan Gorilla Glass untuk memberikan perlindungan terhadap penggunaan sehari-hari. Untuk konektivitas, smartphone ini mendukung jaringan 5G.
Pada bagian dapur pacu, Jolla kemudian mengonfirmasi penggunaan MediaTek Dimensity 7100. Chip tersebut menjadi salah satu komponen penting yang mendukung performa Jolla Phone sekaligus menjalankan Sailfish OS. Dalam pembaruan teknisnya, Jolla menyebut perangkat tersebut sudah berhasil melakukan booting dengan Sailfish OS menggunakan chipset tersebut.
Jolla juga menawarkan konfigurasi hingga 12 GB RAM dan 256 GB penyimpanan. Kapasitas tersebut membuat perangkat ini tidak terlihat seperti smartphone alternatif dengan spesifikasi seadanya.
Menariknya lagi, Jolla mempertahankan beberapa konsep yang mulai jarang ditemukan pada smartphone modern, termasuk baterai yang dapat diganti pengguna. Pendekatan tersebut memberikan nilai tambah bagi pengguna yang ingin memakai perangkat dalam waktu lama tanpa harus langsung mengganti smartphone ketika kondisi baterai menurun.
Desainnya Membawa Identitas Jolla
Jolla Phone juga tidak melupakan identitas visual yang sudah melekat pada perusahaan tersebut.
Jolla menyebut desain perangkat terbaru ini mengambil inspirasi dari Jolla Phone pertama yang meluncur pada 2013. Perusahaan mempertahankan pendekatan desain yang berbeda dari smartphone mainstream dan menghadirkan kembali konsep The Other Half, aksesori atau penutup belakang yang menjadi salah satu ciri khas Jolla.
Konsep tersebut membuat perangkat terasa lebih personal. Pengguna tidak hanya melihat smartphone sebagai benda dengan spesifikasi tertentu, tetapi juga dapat memberikan karakter berbeda melalui bagian belakang dan aksesori yang tersedia.
Pendekatan seperti ini cukup menarik bagi pengguna yang mulai bosan dengan desain smartphone yang terlihat seragam.
Harga Jolla Phone Tidak Murah, tetapi Menawarkan Konsep Berbeda
Ketika diperkenalkan pada Desember 2025, Jolla membuka pemesanan awal dengan harga 499 euro untuk konfigurasi awal. Jolla kemudian membuka batch pemesanan berikutnya dengan harga 549 euro, sementara pengiriman awal ditargetkan berlangsung pada paruh pertama 2026.
Harga tersebut tentu membuat Jolla Phone harus bersaing bukan hanya dari sisi spesifikasi, tetapi juga dari pengalaman yang ditawarkan.
Jika konsumen hanya mencari smartphone dengan performa tinggi, kamera canggih, atau ekosistem aplikasi besar, Android dan iPhone masih memiliki banyak pilihan. Namun, Jolla Phone menyasar pengguna yang menginginkan sesuatu yang berbeda.
Privasi, sistem operasi berbasis Linux, kebebasan dari ketergantungan terhadap Google, dukungan aplikasi Android, serta sejumlah komponen yang dapat diganti menjadi nilai jual tersendiri.
Jolla Phone Bisa Jadi Alternatif untuk Pengguna yang Ingin Berbeda
Kehadiran Jolla Phone menunjukkan bahwa pasar smartphone masih memiliki ruang untuk sistem operasi alternatif.
Android dan iOS memang sangat dominan, tetapi dominasi tersebut tidak membuat inovasi berhenti. Jolla justru mengambil jalur berbeda dengan menawarkan smartphone yang mengutamakan privasi dan kontrol pengguna.
Konsep tersebut mungkin tidak langsung menarik semua orang. Pengguna yang sudah nyaman dengan layanan Google atau ekosistem Apple mungkin tidak memiliki alasan kuat untuk berpindah. Namun, bagi penggemar Linux, penggiat privasi digital, atau pengguna yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan teknologi besar, Jolla Phone bisa menjadi pilihan yang menarik.
Pada akhirnya, kekuatan utama Jolla Phone bukan sekadar pada spesifikasinya. Daya tarik terbesar perangkat ini terletak pada keberaniannya menawarkan alternatif.
Di tengah pasar yang hampir selalu mempertemukan konsumen dengan Android atau iOS, Jolla Phone hadir membawa pesan sederhana: smartphone masih bisa memiliki pilihan lain. Sailfish OS berbasis Linux, dukungan aplikasi Android, kontrol privasi melalui tombol fisik, serta desain yang berbeda membuat perangkat ini layak diperhatikan oleh siapa pun yang penasaran dengan masa depan smartphone alternatif.
