UI Jajaki Kolaborasi AI dan Keamanan Siber Rusia

MadelineLaine
6 Min Read

Teknotera mencatat perkembangan baru dalam kolaborasi AI dan keamanan siber di Indonesia setelah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia menjajaki kerja sama dengan perusahaan keamanan siber asal Rusia, Positive Technologies, pada awal Oktober 2026. Pembahasan mencakup pelatihan sains data, kecerdasan artifisial, keamanan siber, serta peluang riset bersama yang dapat mempertemukan kebutuhan akademik dengan pengalaman praktis industri.

Penjajakan tersebut melibatkan Data Science Center FMIPA UI dan difasilitasi Sakuranesia Society. Pertemuan menjadi menarik karena berlangsung ketika pemanfaatan AI berkembang cepat dan pada saat bersamaan ancaman digital ikut meningkat. Kampus tidak lagi hanya membutuhkan kemampuan mengembangkan algoritma, tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana sistem digital dapat terlindungi ketika diterapkan pada lingkungan nyata.

Menurut laporan ANTARA, Ketua Data Science Center FMIPA UI Alhadi Bustamam menilai kecerdasan buatan dan keamanan siber semakin sulit dipisahkan. Model AI membutuhkan data yang terlindungi, sementara sistem keamanan modern juga mulai menggunakan AI untuk membantu mengenali pola ancaman.

Kampus Ingin Membawa Kasus Nyata ke Ruang Akademik

Salah satu manfaat yang diharapkan dari kerja sama internasional tersebut adalah akses terhadap pengalaman industri.

Mahasiswa bidang data science atau kecerdasan buatan biasanya mempelajari algoritma, statistik, pemrograman, dan pemrosesan data. Namun, tantangan keamanan di lapangan dapat jauh lebih kompleks karena sebuah sistem harus menghadapi serangan, kebocoran kredensial, manipulasi data, malware, hingga kemungkinan penyalahgunaan model AI.

Kerja sama dengan perusahaan keamanan siber membuka kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk mempelajari kasus yang lebih dekat dengan kondisi sebenarnya.

Positive Technologies melalui Director International Channels and Educational Program Alexander Udalov menyatakan kesiapan perusahaan berbagi pengalaman praktis. Salah satu perhatian yang disorot adalah kebutuhan tenaga keamanan siber yang tumbuh cepat dibanding ketersediaan tenaga ahli.

Kondisi tersebut membuat pendidikan cybersecurity semakin relevan bagi perguruan tinggi.

Kemampuan teknis tidak cukup berhenti pada cara membangun aplikasi. Pengembang juga perlu memahami bagaimana penyerang mencari celah, bagaimana insiden terdeteksi, serta langkah yang harus diambil ketika sebuah sistem berhasil ditembus.

Kolaborasi AI dan Kemanan Siber Makin Dibutuhkan

Perkembangan kecerdasan buatan menciptakan dua sisi dalam keamanan digital.

Di satu sisi, AI dapat membantu organisasi mengolah log dalam jumlah sangat besar, mendeteksi aktivitas abnormal, menyaring ancaman, dan mempercepat proses respons terhadap insiden.

Pada sisi lain, teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan serangan. Pelaku dapat menggunakan otomatisasi untuk membuat pesan phishing lebih meyakinkan, mencari kelemahan aplikasi, memproduksi konten palsu, atau mencoba berbagai kombinasi serangan dengan kecepatan yang sulit dicapai secara manual.

Situasi tersebut menjelaskan mengapa kemampuan AI dan cybersecurity semakin sering dipelajari bersama.

Teknotera sebelumnya juga mencatat peningkatan perhatian terhadap AI agent yang dapat menjalankan tugas dengan tingkat kemandirian lebih tinggi. Semakin banyak tindakan yang dapat dilakukan sistem secara otomatis, semakin penting pula mekanisme pembatasan akses, pemantauan aktivitas, dan prosedur ketika sesuatu berjalan di luar rencana.

UI Sudah Memperluas Fokus pada Keamanan Siber

Pembahasan bersama Positive Technologies bukan satu-satunya langkah UI di bidang tersebut.

Pada Februari 2026, FMIPA UI juga menjajaki sinergi dengan Satuan Siber TNI untuk penguatan pertahanan siber nasional. Rencana itu mencakup riset terapan, pembinaan talenta, laboratorium simulasi, hingga pembahasan pengembangan Cyber Range.

Informasi yang dipublikasikan melalui laman resmi UI menunjukkan kampus melihat keamanan digital sebagai bidang yang membutuhkan keterlibatan lintas disiplin.

Matematika, statistik, ilmu komputer, analitik data, AI, dan pemahaman tentang pola serangan dapat saling melengkapi.

Cyber Range, misalnya, memungkinkan peserta melakukan simulasi serangan dan pertahanan dalam lingkungan terkontrol. Model latihan semacam ini berguna karena mahasiswa dapat mempelajari konsekuensi suatu tindakan tanpa mengganggu sistem produksi yang digunakan masyarakat atau organisasi.

Riset Bersama Menjadi Target Berikutnya

Penjajakan dengan Positive Technologies belum dapat disebut sebagai program final dengan rincian kegiatan yang sudah ditetapkan sepenuhnya.

Tahap sekarang lebih tepat dipahami sebagai pembukaan peluang kerja sama.

Alhadi berharap diskusi dapat berkembang menjadi penelitian bersama yang menghasilkan publikasi sekaligus solusi terhadap persoalan keamanan digital di Indonesia.

Target tersebut penting karena hasil kerja sama akademik akan memiliki nilai lebih besar apabila tidak berhenti pada seminar.

Riset dapat diarahkan pada persoalan seperti identifikasi serangan, keamanan model AI, deteksi anomali, perlindungan data, hingga metode pembelajaran mesin yang lebih tahan terhadap manipulasi.

Konteks Indonesia juga perlu mendapat perhatian. Infrastruktur, kebiasaan pengguna, tingkat literasi keamanan, hingga kebutuhan lembaga publik tidak selalu sama dengan negara lain.

Karena itu, pengalaman perusahaan internasional tetap membutuhkan adaptasi sebelum diterapkan secara luas.

Pengembangan Talenta Jadi Persoalan Utama

Pendiri Sakuranesia Society Tovic R menilai kolaborasi internasional harus menjawab kebutuhan nyata Indonesia, salah satunya ketersediaan talenta digital di bidang AI dan keamanan siber.

Persoalan tenaga ahli menjadi semakin penting ketika layanan publik, perusahaan, perbankan, telekomunikasi, dan berbagai kegiatan masyarakat berpindah ke platform digital.

Sebuah organisasi dapat membeli perangkat keamanan terbaru, tetapi teknologi tersebut tetap memerlukan orang yang mampu mengelola, memeriksa peringatan, menginvestigasi insiden, dan memperbaiki sistem setelah menemukan celah.

Perguruan tinggi karena itu memegang posisi strategis.

Mahasiswa tidak hanya perlu mengenal teknologi yang populer saat ini. Mereka juga harus memahami prinsip dasar keamanan sehingga mampu menyesuaikan diri ketika jenis serangan dan perangkat berubah.

Kolaborasi UI dan Positive Technologies masih berada pada tahap penjajakan, tetapi arah pembahasannya memperlihatkan perubahan penting dalam pendidikan teknologi. AI, data science, dan cybersecurity semakin berkembang sebagai bidang yang saling terhubung.

Melalui program ini, mahasiswa dapat langsung mengenal industri, sementara akademisi berkesempatan mempertajam riset keamanan digital.

Share This Article