Pemerintah Dorong RI Jadi Produsen Teknologi Kebencanaan Nasional

Laila
6 Min Read
Pemerintah Dorong RI Jadi Produsen Teknologi Kebencanaan Nasional

Indonesia adalah negara yang hidup berdampingan dengan risiko bencana. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan menjadi bagian dari tantangan yang terus berulang. Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api membuat kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan nasional.

Karena itu, dorongan pemerintah agar Indonesia menjadi produsen teknologi kebencanaan nasional menjadi langkah yang sangat penting. Selama ini, Indonesia sering diposisikan sebagai pengguna teknologi, baik untuk alat pemantauan, sistem peringatan dini, perangkat komunikasi darurat, maupun teknologi pemetaan risiko. Padahal, dengan pengalaman menghadapi berbagai bencana, Indonesia justru memiliki modal besar untuk menciptakan teknologi sendiri.

Dorongan ini disampaikan dalam konteks penguatan riset, inovasi, industrialisasi, serta kolaborasi lintas sektor agar Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi dari luar. Pemerintah melalui Bappenas menekankan pentingnya membangun kemandirian teknologi kebencanaan, termasuk melalui penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Dari Pengguna Menjadi Produsen

Selama bertahun-tahun, banyak teknologi kebencanaan yang digunakan di Indonesia berasal dari luar negeri. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena teknologi global memang berkembang cepat dan dapat membantu penyelamatan nyawa. Namun, ketergantungan penuh pada teknologi impor memiliki beberapa kelemahan.

Pertama, biaya bisa sangat tinggi. Kedua, perawatan dan pembaruan sistem sering bergantung pada pihak luar. Ketiga, teknologi yang dibuat untuk negara lain belum tentu cocok dengan kondisi Indonesia yang sangat beragam. Wilayah kepulauan, daerah pegunungan, desa terpencil, dan kawasan pesisir membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Dengan menjadi produsen, Indonesia bisa merancang teknologi yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Misalnya, sistem peringatan dini untuk daerah pesisir, sensor banjir untuk sungai kecil, drone pemetaan untuk wilayah sulit dijangkau, aplikasi evakuasi berbasis komunitas, hingga perangkat komunikasi darurat yang tetap berfungsi saat jaringan umum terputus.

Risiko Bencana Bisa Menjadi Kekuatan Inovasi

Indonesia memang rawan bencana, tetapi kerawanan itu bisa diubah menjadi kekuatan. Pengalaman menghadapi banyak jenis bencana memberi Indonesia pengetahuan lapangan yang sangat kaya. Data, pola kejadian, tantangan evakuasi, kendala komunikasi, dan kebutuhan masyarakat terdampak bisa menjadi dasar pengembangan teknologi yang lebih relevan.

Negara yang sering menghadapi bencana biasanya punya pemahaman lebih dalam tentang kebutuhan nyata di lapangan. Teknologi kebencanaan tidak cukup hanya canggih di laboratorium. Ia harus bisa dipakai saat listrik mati, jalan terputus, sinyal lemah, cuaca buruk, dan masyarakat sedang panik.

Di sinilah Indonesia punya peluang. Jika riset dan industri digabungkan dengan pengalaman lapangan BNPB, BPBD, BMKG, perguruan tinggi, komunitas relawan, dan pemerintah daerah, teknologi yang lahir bisa lebih membumi. Bukan sekadar alat mahal, tetapi solusi yang benar-benar bisa digunakan saat krisis.

Pentingnya Sistem Peringatan Dini

Salah satu fokus penting dalam teknologi kebencanaan adalah sistem peringatan dini. Dalam banyak kasus, beberapa menit informasi lebih cepat bisa menyelamatkan banyak nyawa. Peringatan dini untuk tsunami, banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan erupsi gunung api harus terus diperkuat.

Namun, sistem peringatan dini bukan hanya soal sensor. Ada rantai panjang yang harus berjalan: deteksi, analisis, pengambilan keputusan, penyebaran informasi, dan respons masyarakat. Jika sensor bekerja tetapi pesan tidak sampai ke warga, sistem belum efektif. Jika pesan sampai tetapi masyarakat tidak tahu harus berbuat apa, risiko tetap tinggi.

Karena itu, teknologi kebencanaan harus terhubung dengan edukasi publik. Sirene, aplikasi, SMS, radio komunitas, papan informasi digital, dan sistem komunikasi desa perlu dibuat saling melengkapi. Teknologi harus menjadi jembatan antara data dan tindakan.

Peran Riset dan Inovasi Lokal

Agar Indonesia bisa menjadi produsen teknologi kebencanaan, riset lokal harus diperkuat. Perguruan tinggi, BRIN, startup teknologi, industri manufaktur, dan lembaga pemerintah perlu memiliki ruang kolaborasi yang lebih besar. Riset tidak boleh berhenti di publikasi, tetapi harus dilanjutkan sampai prototipe, uji lapangan, produksi, dan penggunaan nyata.

Teknologi kebencanaan bisa mencakup banyak bidang. Ada sensor tanah longsor, alat ukur tinggi muka air, sistem pemetaan berbasis satelit, drone pengintai wilayah terdampak, kecerdasan buatan untuk membaca risiko, aplikasi pelaporan masyarakat, hingga sistem logistik bantuan berbasis data.

Indonesia juga memiliki talenta digital yang besar. Banyak anak muda mampu membangun aplikasi, perangkat IoT, sistem data, dan dashboard monitoring. Jika potensi ini diarahkan ke sektor kebencanaan, hasilnya bisa sangat kuat.

Industrialisasi Teknologi Kebencanaan

Menjadi produsen bukan hanya berarti mampu membuat prototipe. Tantangan berikutnya adalah industrialisasi. Produk teknologi harus bisa diproduksi dalam jumlah cukup, memenuhi standar kualitas, mudah dirawat, dan bisa digunakan oleh pemerintah daerah serta masyarakat.

Banyak inovasi bagus gagal berkembang karena berhenti di tahap uji coba. Agar tidak terjadi, pemerintah perlu mendorong ekosistem yang menghubungkan riset, industri, pembiayaan, regulasi, dan pasar. Jika pemerintah daerah membutuhkan alat pemantauan banjir, misalnya, produk lokal harus punya standar yang jelas agar dapat dipercaya dan dibeli secara resmi.

Industrialisasi juga membuka peluang ekonomi. Teknologi kebencanaan bukan hanya soal mitigasi, tetapi juga bisa menjadi sektor industri baru. Jika Indonesia mampu membuat produk yang andal, bukan tidak mungkin teknologi tersebut digunakan negara lain yang juga rawan bencana.

Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Komunitas

Teknologi kebencanaan tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Pemerintah memiliki kewenangan dan data. Swasta memiliki kemampuan produksi dan inovasi bisnis. Akademisi memiliki riset. Komunitas memiliki pengalaman lapangan dan kedekatan dengan masyarakat.

Share This Article